Jumat, 14 Maret 2008

Pedulikah Aku?

Pedulikah Aku?

Terhadap lingkunganku?

Terhadap Istri-ku?

Terhadap Anak-anak-ku?

Terhadap Ibu dan Bapak-ku?

Terhadap Saudara-saudara-ku?

Terhadap Rekan-rekan-ku?

Terhadap Tetangga sekeliling-ku?

Terhadap Orang Miskin?

Terhadap Orang Kena Narkoba?

Terhadap Orang Cacat?

Terhadap Orang Yang Menderita?

Terhadap Orang Yang Kena Bencana Lapindo?

Terhadap Kurban Tanah Longsor, Banjir, Gempa?

Apa yang telah aku perbuat sebagai perwujudan dan aksi nyata?

Pernahkah aku ditolong orang?

Pernahkah aku mendapatkan kemudahan?

Pernahkah aku didamaikan?

Matahari pagi ini bersinar hangat, Apakah aku merasakannya?

Jalanan pagi ini tidak sepadat hari-hari sebelumnya, pedulikah aku kenapa?

Ternyata hingga detik inipun aku masih mengirup udara, pedulikah aku?

Selengkapnya!

Kamis, 13 Maret 2008

Target Karyawan Vs Target Perusahaan

Bisakah target pribadi dan target perusahaan diselaraskan? Wah la kalau dengan target perusahaan koq terlalu besar ya. Itu tadi sebenarnya untuk membuat diri tetap semangat dan tidak kendor. Paling tidak setiap individu punya yang namanya target pribadi. Dan, bisakah target pribadi itu tercapai? bagaimana mengukurnya? apa konsekuensinya kalau tidak tercapai target pribadi?


Target pribadi tidak tercapai tentunya ada alasannya. Karena bisa jadi timbul dari dalam diri pribadi atau pengaruh dari luar. Pengaruh luar ini maksudnya adalah dari tempat kerja. Katakanlah seseorang mempunyai target pribadi bahwa di usia 30 tahun harus sudah menjadi manager dengan gaji 30Juta rupiah. Dalam masa kerja juga dapat mengelola penghasilan sehingga bisa membuat peternakan uang. Sehingga bisa menghasilkan pasif income 10Juta sebulan.

Tentunya dengan target pribadi yang jelas seperti tersebut bisa memacu semangat untuk mewujudkannya. Nah, selanjutnya tinggal mencari perusahaan mana yang bisa membayar dengan gaji tersebut dan usaha sampingan apa hingga bisa dapat pasif income hingga 10juta tersebut. Atau jika sesorang tadi sudah bekerja di perusahan tertentu tinggal melihat kirir path-nya saja. Apakah memungkinkan di usia 30tahun bisa mendapatkan gaji 30juta. Jika kemungkinannya kecil untuk mendapatkannya itu dan masih berpegang pada target pribadi yang sudah ditentukan tentunya sudah tidak ada keselarasan dengan target perusahaan itu. Target perusahaan disini bisa dipersempit menjadi kemampuan perusahaan untuk memberikan gaji sesuai dengan keinginan karyawan. Ya tentunnya si karyawan harus memenuhi standard yang berlaku diperusahaan tersebut. Jika perusahaan itu sebetulnya mampu membayar yang diharapkan oleh karyawan tetapi karyawannya tidak perform itu menjadi hal lain.

Keselarasan target ini bisa saling diukur antara perusahaan dan pribadi bersangkutan. Untuk mencapai gaji yang diharapkan tentunya sesorang sudah bisa memperkirakan apakah perusahaannya mampu? Kalau perusahaannya mampu, bagaimana seseorang bisa mencapai target yang diinginkan? Apa yang bisa dilakukan untuk mengejar target pribadi ini? Apa yang harus dilakukan jika perusahaan tidak memungkinkan untuk menggaji sesuai keinginan karena memang tidak mampu? Apakah akan mencari perusahaan lain?

Yang banyak terjadi sekarang ada karyawan yang mempunyai kemampuan dan layak digaji dengan gaji yang sesuai dengan target pribadinya tetapi perusahaan melihatnya belum layak. Dampaknya buat karyawan adalah demotivasi. Tetapi kalau karyawan dinilai perusahaan belum layak tapi target pribadi tidak terpenuhi yang tinggal cabut saja dari perusahaan itu. Tetapi kalau kedua belah pihak bisa saling melihat adanya potensi dan kelayakan untuk digaji sebesar yang diharapkan karyawan itu baru ada keselarasan.

Dengan adanya keselarasan akan menimbulkan suasana kerja yang lebih kondusif. Karyawan akan berbuat yang terbaik dan begitu pula perusahaan juga akan mengapresiasi sesuai dengan harapan karyawan. Tetapi kondisi seperti ini tidak banyak. Permasalahannya bisa timbul hanya di sisi perusahaannya saja yang tidak perform atau sebaliknya karyawannya yang tidak perform.

Dimanakah posisi para individu silahkan direnungkan sendiri-sendiri? Apakah saya termasuk yang punya target pribadi atau tidak? Perusahaan yang saya tempati sesuai target saya tidak? Sudah sampai dimanakah target pribadi saya? Akankah target itu mempunyai kemungkinan tercapai? Menyadari lebih awal akan membuat persiapan lebih baik pula.

Selengkapnya!

Selasa, 11 Maret 2008

Mematahkan Rutinitas

Rutinitas sering membuat saya merasa bosan. Hal yang berhubungan dengan rutinitas ini misalnya berangkat ke kantor. Seperti saya yang tinggal di pinggir Jakarta dan kerja di tengah Jakarta menjadi masalah dalam hal rutinitas. Jalan yang dilalui juga sering yang itu itu saja. Dan sudah jelas bahwa jalan itu ya macet dan makin macet saja.

Tapi pagi ini tadi saya mencoba untuk mematahkan rutinitas ini. Saya paksakan untuk melalui jalan yang beda. Kadang untuk mematahkan rutinitas ini saya sudah merasa was-was dulu. Jangan-jangan jalan ini lebih macet, jangan-jangan saya akan semakin siang sampai di kantor, jangan-jangan nyasar deh saya dan harus mbulet-mbulet ditempat yang jelas. Pikiran-pikiran itu yang membuat saya suka terjebak dengan hal-hal yang berbau rutinitas.

Dengan mejalankan rutinitas dan tanpa ada terobosan baru ya pengalaman dan pengetahuannya ya itu-itu saja. Paling tidak kalau mau berangkat ke kantor dengan melalui jalan itu saja tanpa mau coba jalan lain. Bisa-bisa yang saya tahu memang hanya jalan itu. Dan tidak pernah akan tahu kalau jalan lainpun bisa mengantar sampai di kantor.

Berani melakukan aksi untuk mematahkan rutinitas kayaknya memang asik karena bisa menambah pengalaman dan pengetahuan. Ternyata sepanjang jalan yang saya lalui dari jalan yang baru itu saya jadi tahu sesuatu. Setidaknya tidak menjadi kuper terhadap jalan disekitar yang biasa dilalui. Atau, kalau menemukan tempat makan yang enak ya lumayan sekalian dengan wisata kuliner maksudnya.

Saya memang paling suka nyasar begitu kata istri saya. Kalau disuruh ngantar kemana dan baru lewat satu kali kalau nanti lewat ke dua kalinya masih nyasar. Ya saya bilang nyasar itu enak lho paling tidak saya jadi tahu jalan yang belum pernah saya lalui. Masih dengan nada protesnya 'Ya kan jadi sampai ke tujuannya jadi lama' memang benar sih tetapi kalau ketujuannya tidak di kejar waktu ya dinikmati saja hehehehe.

Rutinitas dalam kerjaan gimana dong? Kayaknya sama ya, tetap harus dipatahkan biar mendapatkan hal yang baru dan tidak bosan. Dengan mematahkan rutinitas berarti menciptakan sense of urgency dan hal ini akan mendobrak pula terhadap comfort zone saya. Dengan rutinitas yang berjalan lebih banyak dikendalikan oleh reflek sementara kalau ada sense of urgency maka otak dipaksa mikir dan bekerja. Ya biar ngga tumpul saja karena jarang buat mikir. Apa lagi kalau sudah dalam comfort zone biasanya malas untuk membuat sesuatu yang baru lagi atau melebarkan comfort zone yang ada. Takut! itu biasanya yang melatarbelakingi tidak mau mematahkan rutinitas. Takut salah, takut dicemooh, takut ditertawakan, takut tidak jadi populer dan takut-takut yang lain.

Patahkan rutinitas yang kecil jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Selengkapnya!

Menulis Membuat Sehat

Apa hubungannya menulis dan sehat? Ternyata memang ada yang meneliti tentang hubungan menulis dan kesehatan. Diantaranya Fatima Merinnis dan Dr. Panneber. Merinnis mengatakan bahwa dengan rajin menulis akan membuat kulit muka menjadi kencang. Hal tersebut telah dilakukan penelitian ke beberapa sukarelawan. Begitu pula dengan Dr. Panneber juga melakukan penelitian bahwa dengan menulis dapat meningkatkan daya kekebalan tubuh.

Kekebalan tubuh yang dimaksud disini jika tulisan tersebut digunakan untuk mengungkapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan emosional. Pikiran stress, trauma masa kecil ataupu pada masa dewasa atau kejadian-kejadian yang menegangkan menjadi pemicu menurunnya daya tahan tubuh. Kondisi tubuh menjadi terasa capek dan mudah untuk terserang sakit. Dari hal tersebutlah dengan rajin membuat tulisan menjadikan pikiran menjadi bening dan sebening kaca kali yeee.

Rajin menulis dan meluangkan waktu setiap hari kira-kira lima belas menit jauh menjadi lebih baik begitu yang disampaikan oleh Merinnis. Selain bisa meningkatkan daya tahan tubuh dengan menulis juga menjadikan manusia lebih bisa mengembangkan pikirannya dan tidak menjadi pelupa. Karena dengan menulis akan memacu otak kiri maupun kanan turut bekerja. Onderdil otak kalau sering dipakai menjadi lebih encer dan ngga seret. Setidak-tidaknya dengan menulis apa saja setiap hari bisa membantu membuat tulisan lebih baik jika harus menulis. Hasilnya tidak sekaku kalau tidak pernah menulis dan disuruh menulis.

Tuangkan saja apa yang ada dibenak jangan dikoreksi dulu hingga benar-benar ide dalam kepala tidak ada baru masuk tahapan berikutnya yaitu editing begitu kata Mas Edy Zaqeus seorang penulis buku best seller ini. Ini akan mendobrak dan membiarkan otak kita semakin lincah mengeluarkan ide. Biasanya antara otak dan kecepatan menulis itu jauh lebih cepat kecepatan otak. Jika kesempatan menangkap ide dalam otak terlewatkan dalam sekejap saja maka ide itu bisa melayang entah kemana. Jadi tetap biarkan tangan ini mengikuti apa yang ada di otak dan TULIS!.

Dengan adanya blog saat ini menjadikan media yang tepat untuk menyalurkan keingan menulis. Tulis apa saja tiap harinya bisa seperti menjadi histori yang tertata rapi. Seolah seperti buku yang tertata rapi di simpan dalam rak buku dengan diurut berdasakan kelompok jenis buku atau abjadnya. Dan kapan saja ada waktu bisa dibaca lagi dan direnungkan lagi apa yang telah ditulis.

Dengan menulis sembarang seolah membuat gudang tulisan dan kapan saja bisa dibuka jika ingin dicari relasinya antara tulisan yang dulu dan yang sekarang. Saya suka dengan tulisan yang menarik jika didukung dengan data yang akurat. Bank data akan menjadi akurat jika tersaji dalam trend data itu sendiri. Artinya data yang terkoleksi dengan baik akan menjadi informasi yang menarik pula untuk disimak. Setidaknya dengan histori data yang tertata rapi bisa mengukur performance dari kegiatan kita dengan trend data yang ada. Ooo dulu aku nulisnya acak adut, ooo sekarang setelah sebulan masih acak adut dan saya bisa belajar dan belajar terus untuk membuat tulisan-tulisan itu enak untuk dibaca.

Paling tidak seperti apa yang tertulis di judul diatas bahwa menulis bisa membuat pelampiasan yang takterkira dari pikiran negatif kita dan kalau tidak mau membacanya tingga buang saja. Atau kalau mau jadi permenungan tinggal dibaca dan dimaknai seperti apa. Paling tidak beban dan sesak didada bisa tertuangkan dalam tulisan dan tidak menjadi menggumpal dalam dada. Sesak terus menerus, marah yang tak terungkapkan, trauma yang tidak bisa diceritan ke siapan bisa dituliskan. Kalau tulisan yang sangat pribadi tidak berkenan untuk di baca oleh publik ya gampang tinggal simpan saja. Atau kalau sudah tidak ingin melirik kembali ya tinggal buang atau bakar.

Weee tidak terasa lho hanya karena terobsesi dengan bukunya Quantum Writing yang mengulas hal diatas pagi ini saya dah nulis banyak. Ini tulisan yang saya tulis karena mengikuti kecepatan otak dan tidak ingin mengubahnya sebelumnya apa yang ada di otak ini berhenti ke habisan ide. Walah lha kalau tidak di stop kapan akan berhentinya he he he. Tetapi memang asik menulis, ayo terus menulis dan menulis biar otak menjadi 'waras' alias sehat. Dengan menulis berarti juga melakukan senam otak biar otak makin meregang dan tidak mengkerut.

Selengkapnya!

Senin, 10 Maret 2008

Tarif Seluler Makin Tidak Terkendali

Bulan April 2008 akan ditabuh genderang perang implementasi penurunan tarif seluler. Bulan ini sudah dimulai dilakukan tes pasar oleh banyak operator seluler di Indonesia. Ini dilakukan untuk menjajaki pasar dan sambil menunggu dilakukannya persiapan-persiapan terhadap perubahan tarif.

Perubahan tarif seluler ini dipengaruhi oleh dua aturan yang dikeluarkan sejak tahun 2006 yaitu PM 08/2006 tentang "interkoneksi" dan PM 12/2006 tentang "tata cara penetapan tarif perubahan jasa teleponi dasar jaringan bergerak selular". Dua aturan tersebut menegaskan adanya penurunan tarif baik dari sisi interkoneksi dan adanya aturan floor prices untuk retail. Cuman apa yang dimaksud floor prices? Dan dimana detail informasi tentang floor prices ini yang saya belum tahu.

Tarif yang ada hingga bulan ini sudah sangat variatif dan relatif sangat murah. Tidak hanya murah sebenarnya tetapi sudah mengarah pada perang harga. Sebagai contoh IM3 mengeluarkan tarifnya hingga Rp 0.1,-/detik, Telkomsel dengan simPati Pede hingga Rp 0.5,-/detik, XL Bebas mengeluarkan tarif hingga Rp 0.0000..1,-/detik, dan lain-lain.

Tarif diatas ada yang diimplementasikan hanya untuk sesama pelanggan dalam satu operator itu ataupun untuk ke operator lain. Tapi kalau dicermati apa ya yang mendasari adanya turun tarif ini? apakah keuntungan perusahaan akan tetap terjaga? apa ini termasuk strategi untuk mendapatkan jumlah pelanggan yang banyak? baru setelah itu akan di mainkan kembali tarif normal. Kalau ini yang terjadi sepertinya berat karena pelanggan yang masuk segmen ini pasti pelanggan yang hanya cari tarif murah. Dan ujung-ujungnya pelanggan tipe ini pasti akan pindah atau mencari yang sesuai dengan yang diinginkan.

Atau apakah operator bersangkutan mempunyai strategi lain? Hingga mereka sangat percaya diri kalau dengan penurunan tarif ini masih akan membawa perusahaannya tetap survive kedepannya. Atau hal tersebut lebih ke arogansi operator saja ya?

Dampak penurunan tarif ini yang jelas diuntungkan ya pelanggan. Pelanggan dapat melakukan berbicara ha ha hi hi sampai puasssss tapi dengan tarif yang sangat murah dan sesuai dengan kantong dari pelbagai kalangan. Bagaimana kalau ditilik ke dalam operator-operator itu sendiri? Apakah mereka masih dapat menerima gempuran transaksi yang meluap yang dilakukan oleh pelanggannya? Apakah perangkatnya mereka pada mendukung ya? Apakah sinyal yang akan diterima atau dinikmati pelanggan akan tetap sama dengan pada saat tarif normal?

Bagaimana dengan operator yang hanya ikut-ikutan menurunkan tarif tetapi tidak didukung dengan perangkat dan dana yang cukup untuk pengembangannya? Akankah operator tersebut akan gulung tikar? Duh apes banget kalau hal itu terjadi?

Operator-operator seluler yang ada di Indonesia sebagian besar sahamnya sudah dimiliki oleh operator asing. Memang benar operator asing mempunyai banyak dana yang bisa dikucurkan ke Indonesia. Dan tentunya merekapun ingin mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan dana awal yang di setor. Dengan makin turunnya tarif dan turunnya pendapatan serta meningkatnya biaya operasional dan pengembangan, apakah operator asing sebagai investor akan tetap bertahan? Sampai kapan kira-kira? Bagaimana kalau operator-operator kecil tidak bisa mengimbangi operator besar dan kemudian tutup. Apakah monopoli akan kembali lagi?

Pangsa pasar di Indonesia untuk jasa telekomunikasi ini memang sangat besar. Bagaikan tambang emas yang berkilauan dan di perebutkan banyak pihak. Tapi jangan sampai tambang itu akan habis dan pudar dan tidak menyisakan apa-apa untuk bangsa Indonesia kemudian hari. Jangan sampai krisis perusahaan jasa telekomunikasi seperti tambang minyak di Kalimantan sebagai daerah minyak malah harus ngantri beli minyak.

Selengkapnya!

Minggu, 09 Maret 2008

Mengais Usaha Dari Rumah

Kreasi Omahan, begitu awal ide tercetus untuk mengawali membuat usaha dari rumah. Ide itu keluar dari istri-ku dan temannya yang sama-sama sebagai ibu rumah tangga. Untuk membuat kesibukan lain disela harus menjaga anak dan mengurus rumah tercetuslah ide diatas.

Dari ide itu muncul brand 'Lidhi-Kreasi Omahan' yang merupakan kenpanjangan dari 'Lia-Diana Kreasi Omahan'. Unik juga nama tersebut. Dan nama tersebut sekarang mulai dilekatkan disetiap kreasi yang udah dibuat. Ya, barangkali dari barang-barang yang sudah mulai dipesan dan ada info tentang lidhi ini bisa terus menuai pesanan. Harapan tersebut tetap ada. Dengan suatu harapan besar untuk membuat usaha dari rumahan dan memberdayakan banyak tenaga disekitar rumah. Dan satu lagi inginnya barang-barang yang dibuat sedemikian yang ramah terhadap lingkungan. Minamal mengindari penggunaan bahan plastik.

Karena bahan plastik menjadi salah satu bahan yang susah untuk melebur dengan tanah dan sampahnya bisa membuat polusi. Niatan yang baik ini kayaknya mesti dilestarikan paling tidak memang mulai dari yang kecil (pinjam istilah Aa Gym) dan di mulai dari rumah sendiri. Bahan yang dibuat diusahan berasal dari kain dan kertas.

Dari Lidhi-Kreasi Omahan ini sudah mulai dibuat beberapa contoh kreasi, diantaranya berupa :

1. Taplak meja
2. Spreidan sarung bantal guling
3. Korden
4. Sarung bantal sofa
5. Tas tempat souvenir
6. Sarung payung
7. Tudung printer
8. Tudung rice-cooker.
9. dan lain-lain.

Contoh-contoh gambar yang lain seperti pernah tersaji pada ulasan sebelumnya.
Dan berikut contoh sarung bantal sofa.

Selengkapnya!

Senin, 03 Maret 2008

Pesanan Partai Besar

Akhir minggu Februari 2008, istri saya dapat orderan membuat souvenir yang banyak. Banyak di sini adalah untuk ukuran istri saya. Pesanan souvenir tersebut mencapai 1,000 paket, dimana satu paket terdiri dari satu alas kepala untuk sembahyang dan satu tas. Jadi total pesananannya ada 2,000 souvenir.

Yang menjadi menarik dari kegiatan ini sebenarnya pesanan ini merupakan pesanan partai besar pertama kali. Dan pesanan tersebut akan di gunakan sebagai souvenir 40 hari Wafatnya Alm. Bapak Jendral Besar Soeharto. Ada rasa senang, bangga dan haru karena bisa dapat kepercayaan untuk membuat souvenir ini. Dan ada juga perasaan was-was, apakah pekerjaan ini mampu untuk diselesaikan? Dan apakah hasilnya nanti akan sesuai dengan yang di harapkan?

Berbekal dengan 'bondho nekat' dan percaya diri kalau pekerjaan itu bisa diselesaikan, langkah demi langkahpun di jalani. Mulai pesan bahan kain blaco, knor, tutup knor ke Blitar. Belanja batik ke Jogja. Mencari tukang potong kain, tukang jahit, tukang obras dan tukang bordir di PIK Jakarta Timur. Koq ya semua itu seperti ditunjukan jalannya. Dan begitu saja semua itu berjalan dengan sendirinya. Walau di tengah-tengah perjalanannya banyak sekali ringtangan-ringtangan yang kadang masih di luar perkiraan. Dan ya maklumlah la wong semuanya tadi memang pertama kali di jalankan.

Tidak menyangka kalau pesanan itupun bisa diselesaikan dengan segala macam perasaan capek, seneng dan yang paling penting PUAS karena tugas itu kelar. Awalnya tidak terbayang dan bahkan cenderung bayangannya sulit untuk menyelesakiannya. Ternyata, memang sulit dan tidak mudah dan tidak semudah orang hanya melihat hasilnya begitu.

Yang jelas satu pengalaman berharga telah di punyai meskipun harus melalui jalan yang berat. Justru itu yang membuat pengalaman ini menarik. Suatu usaha kalau berhasil memang harus dijalankan (action) dan tidak hanya dibayangkan. Bayangannya emang jauh dari kenyataannya.
Selamat buat istri-ku Lia dan Diana (temannya) yang telah menyelesaikan babak awal suatu usaha ini.










Selengkapnya!